Sebagaimana apesnya seorang renta, dia harus memilih tinggal bersama anak, lebih tepat memilih untuk tinggal di salah satu rumah anaknya. Para menantu tidak mampu menjadi manusia berbakti, anak-anak yang telah dia didik menjadi budak keluarga...
Tidak bisa dipilih maupun disalahkan.
Tapi ini salah satu fenimena alam yang akan menimpa mereka yang punya anak. Getir dan masam untuk dibicarakan.
Kilas balik si renta membuat senyum terkembang di pipi keriputnya.
Ketika sang istri masih mendampinginya ia kerap melihat istrinya bercanda dengan anak-anaknya, tetapi bagi si renta dia memilih diam dan membisu, untuk menjaga wibawa dan karisma di mata keluarga.
Tangan dingin harus diberlakukan supaya semua sesuai aturan.
Perintahnya dulu, "Kakak, sebagai anak tertua kamu harus disiplin dan menjadi contoh!", atau "Adik kamu harus menurut. Jangan semua harus mengerti kamu!"
Contoh di atas adalah kalimat perintah terpanjang sepanjang hidupnya. lebih banyak bahasa tubuh dan isyarat. Melotot, tangat terkepal ke udara, muka masam hingga seperempat jam, mata menerawang jauh dengan dagu diangkat, selebihnya duduk manis di beranda tanpa menghiraukan kejadian di alam sekitar, kecuali sebatang rajangan tembakau, penghibur setianya.
Semua fatwa pendeknya telah anak-anak laksanakan.
Bekerja dan bergaji teratur.
Menikah dengan pasangan yang mapan dari keluarga mapan.
Memapankan keluarga.
Memiliki rumah.
Memiliki anak sebagai penerus.
Para anak telah memenuhi semua kemauannya, berhasillah si renta untuk mengatur dan mendidik anaknya.
Bangga!
Setelah napas terhela berselang ke 5 kalinya, ternyata terasa bahwa ia juga sangat tersiksa karena imbas diktasinya juga terhadap dirinya.
Semua anak telah mapan dan teratur, bahkan untuk sekadar berkunjung harus menunggu waktu liburan hari minggu.
Mau telepon... pasti terdengar jawaban penolakan klasik, "Ayah, aku sedang rapat koordinasi", "Ayah, aku sedang dampingi pimpinan, ntar malam aku telpon balik", "Kakek, bsok aja kakek main sini. Adek lagi bikin PR", dan serangkaian kebuntuan karena keteraturan.
Senyum itupun sirna dan tertitik mata kacanya.
Hebatnya masih juga ia senyum karena keberhasilan yang menyiksa dirinya dan keluarganya, hingga cucu-cucunya untuk tergilas dalam siklus lingkaran pedati.
Hidup Anda milik Anda. Anda yang putuskan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar